GOOD RELATIONSHIP, GOOD
WRITING
“Some people arrive and make such a beautiful impact on
your life, you can barely remember what life was like without them.”
— Anna Taylor
Sudah lama rasanya ingin punya tulisan sendiri seperti
penulis –penulis yang bisa menebar manfaat dengan yang lain. Tidak perlu
professional, sederhana saja, tulisan bisa dibaca dan jadi sumber informasi
bagi pembaca. Keinginan itu tak kunjung terwujud. Mencoba membuat Blog sendiri
sejak tahun 2012 tidak pernah ditengok atau dibubuhi kisah menarik, alasan
klise, tidak pernah mampu memprioritaskan menulis karena banyak urusan dan
kepentingan yang mendesak lainnya, dan
akhirnya blog terupdate kembali setelah tidak
terencana masuk di sebuah group menulis pada Desember tahan 2020.
Bergabung di Whatssapp Group Menulis Gelombang 17 asuhan
bapak Wijaya Kusuma, M.Pd yang akrab disapa Omjay, merupakan sebuah anugerah
tersendiri, mulai bersemangat membeli buku untuk contoh penulisan juga merasa termotivasi
menulis dari moderator dan pemateri disetiap malam peretemuan. Di kelas ini,
peserta bebas tanpa dipungut biaya, hanya bermodalkan semangat dan kemauan
menulis. Omjay dengan penuh ketulusan membuka kelas ini dengan program yang
telah direncanakan sebelumnya. Pelatihan
menulis ini mulai dari Bulan Januari sampai Maret 2021 dengan tujuan peserta
menuliskan resume setiap pertemuan yang diikuti. Peserta
diwajibkan mengikuti 20 kali pertemuan dengan narasumber yang berbeda
setiap minggunya. Pertemuan dilaksanakan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat
malam pukul 19.00-21.00 WIB.
Sungguh mulia hati Omjay, mengarahkan kami untuk berkarya, menulis resume dan diposting di
sebuah blog. Mencoba login di Blogger dengan email yang alhmadulillah masih
aktif. Ada sisa postingan tahun 2012, cukup lama, hanya bisa tersenyum dan berguman, seandainya sejak
itu lanjut menulis, mungkin sudah terbit sebuah buku solo, namun apa daya,
waktu berputar tanpa ada motivasi untuk menulis. .
Pertemuan pertama dalam Pelatihan menulis gelombang 17 ini,
hari Senin, tanggal 4 Januari 2021, di awali oleh bapak Wijaya Kusuma, M.Pd,
seorang motivator, trainer, guru blogger Indonesia, founder KSGN, founder kelas
menulis PGRI, guru TIK di SMP Labschool Jakarta, sekaligus penulis buku sebagai
pemateri dan dipandu oleh seorang Ibu yang masih sangat muda dan energik, Bu
Aam Nurhasanah, S.Pd., bertugas di SMPS MATHLA UL HIDAYAH CIPANAS, menyapa seluruh peserta pelatihan dengan
mengarahkan peserta untuk mengisi daftar hadir perdana kelas belajar menulis Omjay
dan PGRI.
Omjay mengisahkan pengalaman menulis setiap hari dan berusaha
kuat untuk menuangkannya di blog. Adanya media blog membuat Omjay memiliki
komitmen untuk menulis setiap harinya. Tidak menulis dalam sehari saja seperti
ada yang kurang atau hilang dalam dirinya, merasa harus menjadi produsen
pengetahuan dan berbagi informasi melalui tulisannya dan apa yang diketahui
harus juga diketahui oleh orang lain dengan berbagi (sharing). Bagaikan anak
kecil yang kehilangan buku tulis karena sedang belajar menulis. Perassan ini
menjadi sumber kekuatan Omjay dan
dijadikan sebagai kebiasaan dan kebutuhan yang sudah menyatu dalam dirinya.
Pesan yang mendalam “Konsistensilah dalam menulis satu halaman setiap hari
(resume kelas menulis). Jika dikumpulkan selama sebulan, jadi 30 artikel deh.
Lama-lama bisa jadi buku. Jadi semangat terus”. Kalimat ini menjadi sumber
kekuatan peserta untuk menulis.
Malam kedua Pelatihan Belajar Menulis di hari
Rabu , 6 Januari 2021 mendapatkan pencerahan dari narasumber belajar menulis
PGRI, bapak Sucipto Ardi, dipanggil Pak Cip sebagai moderator dan nara sumber
Ibu Rita Wati, S.Kom yang berdomisili di Bali dengan tema “Trik Jitu Menulis
untuk Pemula”.
Diawali dengan
sharing pengalaman bagaimana perjalanan menjadi penulis hingga ditawarkan
menjadi kurator dan sekarang mulai diundang sebagai pemateri di group menulis.
Ketertarikannya menulis sudah cukup lama sejak menjadi mahasiswa, mempunyai
teman kos seorang penulis. Pada saat itu juga berteman dengan seorang penulis
yang telah menerbitkan buku namun karena tidak tahu mau menulis apa dan bagaimana
cara memulainya, keinginan tersebut hanya keinginan yang terpendam tanpa di
eksekusi.Akhirnya dengan bergabung di group menulis Omjay mendapatkan kekuatan atau the power of writing pada saat salah satu resume di share Omjay
dan menjadi populer post pada saat itu. Sejak saat itu, semangat menulis Bu
Rita semakin tinggi hingga bisa menjadi seorang kurator. Dengan kekuatan silaturahim,
bisa mengenal Bu Rita dalam sebuah buku bersama. Tergerak untuk mulai ikut bersama menulis Antologi dengan
judul Pesona Nusantara dengan kurator ibu Rita yang sangat menginspirasi. Rasa
bahagia bukan kepalang stelah menerima buku pertama Antologi,. Walaupun lambat
dengan usia yang tidak muda lagi namun ingin berpartispasi dengan sahabat
penulis lainnya dari berbagai daerah yang berbeda sebagai bentuk silaturahim yang bisa terjalin walaupun hanya
dalam bentuk tulisan.
Silaturahim malam ketiga kuliah
online belajar menulis bersama Omjay diberikan
materi oleh seorang nara sumber yang luar biasa semangat jiwa menulisnya, bunda SRI Sugiastuti yang biasa disapa ibu Kanjeng
dengan tema Menulis dengan kekuatan
silaturahmi, dipandu kembali oleh moderator energik, ibu AAM Nurhasanah dari lebak Banten.
Walaupun belum pernah bertemu langsung dengan Bu Kanjeng, dari profil beliau, sebagai penulis, editor, motivator yang memajukan literasi, memotivasi semua peserta untuk berani menulis
buku secara antologi yang melahirkan silaturahim diantara semua penulis dalam
buku tersebut. Bu Kanjeng memberikan arahan yang mudah dicerna, suara yang
lembut namun membakar jiwa peserta yang haus ilmu
Bu Kanjeng mengawali pertemuan dengan kalimat-kalimat yang
menginspirasi dalam menulis. Perlunya menanamkan Mindset yang kuat dalam diri
untuk bisa menulis. Semua hal negatif, tidak punya waktu, tidak punya ide, tulisan
jelek, adalah alasan yang dibuat sehingga muncul perasaan tidak ingin memulai
menulis atau berbagi pesan tulisan kepada orang lain, apalagi ingin menjadi
penulis hebat tetapi malas membaca. Tidak hanya sebagai "pemburu
sertifikat " untuk kenaikan pangkat, tetapi mengaplikasikan apa yang sudah
dipelajari dengan bukti fisik berupa sebuah buku tunggal, blogppribadi, blog
keroyokan seperti kompasiana, gurusiana,
atau disatu komunitas yang memiliki Web dan diberi kesempatan untuk meramaikan web
tersebut. Sebuah cambuk bagi para pemula seperti diriku. Ingin rasnya memutar
waktu, kenapa baru sekarang mengenal mereka yang sangat luar bisa memberikan
semangat kepada kami untuk memulai menulis sesuatu setiap harinya.
Hal yang
penting lainya dari Bu Kanjeng dalam pertemuan ini adalah membagikan 4 judul
buku hasil karyanya dengan memilih 3 saja yang disukai. Bu Aam
sebagi moderator memilih buku bercover warna pink, warna khas seorang wanita
dengan judul Catatan Motivasi dan Literasi Bu
Kanjeng. Dengan
bahasa yang santun, Bu Kanjeng mengisahkan berkat silaturahim, dalam waktu hitungan jam, buku pink ini
diberikan kata pengantar oleh Bapak Dr. Marjuki, M.Pd, seorang Widyaiswara dari Jawa Timur. Sangat
luar biasa pengaruh silaturahim yang kuat diberikan kelancaran dan menambah
semangat dalam proses sebuah karya.
Konten dari buku ini tentang kisah-kisah inspiratif. Bu
Kanjeng dengan lugas menyatakan bahwa menulis harus ada nilai kejujuran. Perlu
kesesuain tampilan Judul dan kandungannya. Pada saat pembaca mulai membrowsing
isinya, tidak merasa ada sesuatu yang aneh karena tidak ada kepaduan. Daftar
isi, kata pengantar serta sinopsis harus sesuai.
Ada sebuah kutipan yang menarik dalam sinopsis dari buku ini.
Kutipan dari seorang tokoh pelopor pendidikan Indonesia yang sangat
menginspirasi, bapak Ki Hajar Dewantara dengan isi kutipan,
"Apapun yang dilakukan oleh
seseorang itu hendaknya dapat bermafaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat pada
bangsanya dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya". (Ki
Hajar Dewantara)
Dari
kutipan ini, Bu Kanjeng mengungkapkan bahwa seorang penulis harus membingkai
hati agar tetap istiqomah sebagai Hamba Allah, berusaha menjadi manusia yang
bisa menebar manfaat bagi orang lain dengan karya, mengabadikan tulisan pengetahuan, buah pikiran juga harapan dalam
menghadapi hidup. Girah menulis Bu Kanjeng di usianya, tidak mematahkan semangatnya
untuk produktif. Kisah yang dimuat berasal dari postingan-postingan di beberapa
blog dengan tambahan editan sehingga bisa menjadi sebuah buku.
Buku kedua yang
dipilih Bu Aam adalah The Stories of Wonder Women.
Kekuatan silaturahim kembali diangkat dalam proses pembuatan sampai penerbitan
buku ini. Dengan mengharap ridho Ilahi, tidak segan Bu Kanjeng duduk bersama di
sebuah Taqlim, membaca Al Qur’an dan hadits,
dengan referensi buku La Tahzan, hadis Al Buqhari, dan kitab Riyadus Sholihin
Bu Kanjeng berhasil membingkai 21 kisah inspiratif perempuan tangguh dalam
perjalanan hidupnya. Alhasil, buku ini sangat laris karena bisa terjual sekitar
1.500 examplar. Perempuan Indonesia senang membaca buku ini karena berisi
berbagi kisah perempuan tangguh dalam perjalanan hidupnya. Dalam menghadapi
masalah sampai menemukan solusi yang tepat disetiap kisah yang bisa diambil
sebagai pesan moral untuk pembaca.
Semakin menarik
penjelasan BU Kanjeng, tak terasa beliau menjelaskan karya ketiga dengan judul Wow
English is so Easy Kids. Dilihat dari judulnya, bisa dibayangkan
kalau isinya adalah sebuah pembelajaran Bahasa Inggris yang diperuntukkan bagi
pembaca yang ingin mahir berbahasa Inggris, dimana buku ini terdiri dari 70
unit dengan situasi yang berbeda. Dalam setiap Unit, ada penjelasan kosa kata, contoh percakapan, latihan dan catatan
yang harus diingat ditambahkan kumpulan evaluasi yang dijadikan penilaian untuk
menguasai materi sebelumnya. Buku ini juga dilengkapi dengan kunci jawaban, e
regular verb dan glosarium.
Proses pembuatan
buku inipun tak pelak dari sebuah bentuk silaturahim yang kuat dalam bentuk
mengikuti diklat, kelas belajar menulis 2 hari di hotel Mega Land
Solo, kelas editor di hotel Arini Solo sampai pembuatan judul buku dan cover. Dalam
waktu yang relative singkat buku ini bisa diterbitkan di media guru dan juga
telah dikirim ke penerbit mayor, PT Andi dalam bentuk e-book dengan jumlah 418 halaman.
Sungguh capaian luar biasa yang menambah para penulis pemula membakar semangat
dan pembaca bisa mengaksesnya secara on line.
Catatan
Corona merupakan hasil karya yang terupdate karena tentunya muncul pada
saat Pandemi Covid 19. Dalam buku ini, Bu Kanjeng menunagkan segala kesahnya
tentang Pandemi dan kreativitas selama dalam situasi ini. Walaupun kondisi yang
serba terbatas, namun Bu Kanjeng tetap melakukan hal-hal yang positif untuk
mengisi harinya. Sekitar 34 peristiwa yang dikisahkan dalam buku ini. Kekuatan
Silaturahmipun lahir dalam proses pembuatan buku ini, salah satunya karena berhasil mendapatkan Kata Pengantar
dari seorang Dosen IAIN Tulung Agung, tokoh literasi Jawa Timur. Beliau adalah
Doktor Ngainun Naim. Bu Kanjeng bergabung dalam komunitas yang sama dalam sahabat
pena kita. Dari komunitas ini Bu Kanjeng bersilaturahim dengan para dosen dan professor
pegiat literasi.
Dari penjelasan dan pengalaman yang mengugah semangat,
terlintas betapa dahsyatnya kekuatan
silaturahmi untuk seorang penulis. Hal ini sangat sesuai dengan karakter Bu
Kanjeng. Beliau selalu menulis dengan rasa, sehingga buku Bu
kanjeng yang terkesan empuk dan selalu menarik untuk dibaca dan banyak pelajaran
yang bisa dipetik didalamnya. Kesan yang tersirat dari Kekuatan silaturahmi sebagaimana di sebutkan dalam sebuah hadits yang
artinya “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya,
maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi]. Dari bentuk silaturahim di kegiatan Menulis Gelombang 17
menciftakan ruang ini, berkenalan denagn para penulis hebat, walaupun masih
baru dan kenal sebatas maya tapi telah berhasil membuat diri saya sebagai orang
yang baru memulai menulis bergabung dan berpartisipasi menggores untaian kalimat
dalam sebuah karya antologi ini. Ingin rasnya belajar langsung dari Bu Kanjeng, mengikuti
jejaknya yang menjadikan usia bukanlah penghalang untuk berkarya.
Perpaduan anatara arahan Omjay memberi semangat untuk menulis satu hari satu halaman dengan
Bu Kanjeng yang menonjolkan kekuatan
silaturahmi, saling melengakapi satu sama lain. Dengan silatuhami setiap
hari bisa menuangkan ide tulisan hasil silaturahmi, begitupun sebaliknya. Dari
kekuatan itu, memunculkan respon motivasi diri ingin berbuat sebagai modal awal
untuk menulis walaupun dengan proses yang cukup melatih mental sehingga angan
menerbitkan sebuah tulisan atau bahkan sebuah buku itu terwujud.
Terimakasih yang tak terhingga kepada Omjay, Bu Kanjeng, Bu
Aam dan pemateri lainnya yang telah memberikan kesempatan ini, memperoleh ilmu
yang bermanfaat. Semoga kedepan diberikan kesempatan untuk tetap menjalin
silaturahim dan menghasilkan karya
seperti mereka yang bisa bermanfaat bagi
orang lain. Aamiin Allahumma Aamiin.
Comments
Post a Comment